Langsung ke konten utama

Postingan

Harga Barang Melejit. Inflasi Indonesia 4, 35%, Amerika 9, 1%

Sejak awal tahun 2022, seluruh dunia termasuk Indonesia merasakan gejolak tinggi. Mulai dari kenaikan harga BBM, tarif dasar listrik, hingga bahan pokok. Berikut adalah beberapa kenaikan harga yang signifikan kita rasakan. Berdasarkan data dari BPS, kita bisa melihat tingkat inflasi yang mencerminkan agregat kenaikan harga di Indonesia yang signifikan.  Berikut adalah penyebab kenaikan harga beberapa bahan pokok: Meski setiap barang punya alasannya sendiri, namun tingkat inflasi di Indonesia sudah menembus batas wajar yang ditargetkan bank sentral. Bank sentral menaikkan suku bunganya. Kenikan suku bunga Amerika ini akan membuat nilai tukar Rupiah akan melemah terhadap US Dollar. Berikut adalah rantai sebab-akibat ekonomi yang terjadi saat ini: 🔻Covid membuat ekonomi melambat 🔻Uang beredar ditingkatkan untuk memacu ekonomi 🔻Ekonomi kembali pulih, tapi uang beredar terlalu banyak 🔻Terjadi inflasi karena uang beredar terlalu banyak 🔻Bank Sent...

Bocoran dari IMF & PBB Soal fiondisi Suram Efionomi Dunia

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebut jika saat ini kondisi efionomi global menghadapi situasi yang sulit. Terkait hal ini, Jokowi bahkan memaparkan data tentang suramnya ekonomi dunia. Adapun data tersebut bersumber dari IMF dan Bank Dunia, yang memprediksi akan ada 66 negara yang terancam ambruk ekonominya. "Kita bicara dunia dulu semua negara sekarang ini berada dalam keadaan yang tidak mudah. Tadi sekjen PBB menyampaikan IMF, Bank Dunia menyampaikan bahwa akan ada 66 negara yang akan ambruk ekonominya," ujar Jokowi dalam acara Silatnas dan Ultah ke-19 Persatuan Purnawirawan TNI Angkatan Darat, dikutip Sabtu, (6/8/2022). "Sekarang sudah mulai satu per satu angkanya adalah 9 lebih dulu, kemudian 25, kemudian 42.Mereka detil mengkalkulasi," tambahnya.Pada kesempatan itu, Jokowi turut menyinggung soal ancaman kelaparan yang melanda dunia.Menurutnya ada 320 juta orang di seluruh dunia yang berada dalam kondisi kelaparan akut. "Apa yang dikhawatirkan betul- b...

Ekonomi Indonesia Paling Resilien di Tengah Risiko Global !

Pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan menjadi salah satu yang paling resilien di tengah berbagai risiko global yang mengalami peningkatan. Dalam laporan Global Economic Prospect (GEP) Juni 2022, Bank Dunia memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia akan berada di tingkat 5,1 persen untuk tahun 2022 atau hanya turun 0,1 poin persentase (pp) dari proyeksi sebelumnya. Proyeksi tersebut masih berada dalam kisaran outlook Pemerintah yakni 4,8 persen hingga 5,5 persen. Dalam laporan tersebut, Bank Dunia mengemukakan bahwa perekonomian Indonesia akan mendapat dorongan dari kenaikan harga komoditas. Perekonomian Indonesia terus menunjukkan resiliensi di tengah gejolak global yang terjadi. Selain menjadi salah satu dari sedikit negara yang dapat mengembalikan output ke level prapandemi sejak tahun 2021, kinerja ekonomi domestik di tahun ini juga terus menguat antara lain didukung situasi pandemi yang terus terkendali. Selain itu, Pemerintah berupaya menjaga pertumbuhan ekonomi dengan mem...

Indonesia Saat Ini Mengalami Inflasi Terus Menerus

Kenaikan harga terjadi terus menerus,  namun kenaikan harga komoditas pangan dan energi di tingkat global mulai dirasakan dampaknya di Indonesia. kenaikan harga umum pada bulan Juni 2022, sudah melebihi target inflasi sebesar 3%.   Di Indonesia, inflasi IHK dikelompokkan menjadi inflasi inti dan inflasi non-inti. Apa itu inflasi inti?  Inflasi inti merupakan komponen interaksi yang cenderung menetap atau persisten atau komponen di dalam pergerakan inflasi dan dipengaruhi oleh faktor fundamental, seperti interaksi permintaan penawaran. Jadi, kalau permintaannya lebih tinggi itu terjadi inflasi, dibandingkan dengan penawaran. Kemudian lingkungan eksternal ini terjadi pada negara seperti Indonesia.  Kalau ada gejolak nilai tukar, maka akan terjadi inflasi, karena kita banyak lakukan impor impor kalau nilai tukarnya terdepresiasi maka terjadi inflasi. Selain itu, bukan hanya kenaikan herga yang meyebabkan terjadinya infelasi terus menurus, yaitu harga komoditi inte...

Ancaman Krisis di Balik Tumpukan Utang Negara saat Pandemi COVID-19

Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) mengkhawatirkan penurunan kemampuan pemerintah untuk membayar utang yang terus menumpuk selama pandemi covid-19. Pasalnya, peningkatan utang dan biaya bunga sudah melampaui pertumbuhan Pendapatan Domestik Bruto (PDB) dan penerimaan negara. Hasil pemeriksaan BPK terhadap Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) 2020 menunjukkan kerentanan utang Indonesia juga sudah melampaui batas yang direkomendasikan Dana Moneter Internasional (IMF). Selain itu, rasio utang dan pembayaran bunga utang terhadap penerimaan pun jauh melampaui batas yang direkomendasikan IMF yakni 90-50 persen dan 7-10 persen. Tercatat, rasio utang Indonesia terhadap penerimaan berada di angka 369 persen, sedangkan rasio pembayaran bunga terhadap penerimaan berada di angka 19,06 persen. Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Didik J Rachbini mengatakan rapor merah soal pengelolaan utang yang disampaikan BPK sudah seharusnya menjadi perhatian serius peme...