Langsung ke konten utama

Postingan

Ancaman Krisis di Balik Tumpukan Utang Negara saat Pandemi COVID-19

Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) mengkhawatirkan penurunan kemampuan pemerintah untuk membayar utang yang terus menumpuk selama pandemi covid-19. Pasalnya, peningkatan utang dan biaya bunga sudah melampaui pertumbuhan Pendapatan Domestik Bruto (PDB) dan penerimaan negara. Hasil pemeriksaan BPK terhadap Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) 2020 menunjukkan kerentanan utang Indonesia juga sudah melampaui batas yang direkomendasikan Dana Moneter Internasional (IMF). Selain itu, rasio utang dan pembayaran bunga utang terhadap penerimaan pun jauh melampaui batas yang direkomendasikan IMF yakni 90-50 persen dan 7-10 persen. Tercatat, rasio utang Indonesia terhadap penerimaan berada di angka 369 persen, sedangkan rasio pembayaran bunga terhadap penerimaan berada di angka 19,06 persen. Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Didik J Rachbini mengatakan rapor merah soal pengelolaan utang yang disampaikan BPK sudah seharusnya menjadi perhatian serius peme...

Kenapa Korsel menjadi negara maju? Padahal, dulu tahun 1960an masih negara miskin!

Indonesia & Korea sama-sama merdeka dari jajahan Jepang tahun 1945. Setelah itu, Indonesia harus berjuang menghadapi agresi militer Belanda. Sedangkan Semenanjung Korea mengalami ketegangan dibawah pengaruh Uni Soviet & AS hingga meletusnya perang antara Korea Utara dan Korea Selatan tahun 1950-1953. Setelah perang Korea tersebut, ekonomi Korsel terpuruk menjadi salah satu negara termiskin di Asia selama bertahun-tahun. Namun, akhirnya Korsel bangkit dan mengalami pertumbuhan ekonomi sangat cepat hingga kini menjadi negara maju. Indonesia dan Korea sama-sama merdeka dari jajahan Jepang pada tahun 1945. Setelah itu, Semenanjung Korea mengalami ketegangan di bawah pengaruh Uni Soviet dan AS hingga meletusnya perang antara Korea Utara dan Korea Selatan pada tahun 1950-1953. Setelah perang, ekonomi Korsel terpuruk menjadi salah satu negara termiskin di Asia selama bertahun-tahun. Namun, akhirnya Korsel bangkit dan mengalami pertumbuhan ekonomi sangat cepat hingga kini menjadi negar...

Singapura Ekspor 10 Juta Ton BBM ke RI Meski Tak Punya Ladang Minyak

Indonesia adalah net importir oil (importir bersih) minyak bumi untuk memenuhi kebutuhan konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) di dalam negeri yang kian meningkat. Meskipun pada saat yang sama Indonesia masih mengekspor minyak mentah. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia paling banyak mengimpor minyak mentah dari Arab Saudi. Tahun lalu, volume impor minyak mentah dari negara penghasil minyak terbesar dunia itu mencapai 4,4 juta ton. Menariknya, impor terbesar produk minyak olahan Indonesia, termasuk BBM, bukan dari Arab Saudi, melainkan Singapura yang mencapai 10,3 juta ton di tahun yang sama. Padahal, Singapura adalah negara kecil yang tidak memiliki sumber minyak seperti Arab Saudi. Data BPS menunjukkan Indonesia telah menjadi net importir minyak sejak tahun 2004. Saat itu, volume impor minyak mentah dan produk olahan minyak mencapai 30,3 juta ton sedangkan ekspornya mencapai 34,9 juta ton sehingga terjadi defisit sebesar 4,6 juta ton. . Dari sisi nilai, neraca perdagan...

Larangan Ekspor CPO, Lebih Banyak Mudarat Daripada Manfaat?

Kebijakan larangan ekspor CPO dan bahan baku minyak goreng yang diberlakukan nyaris dua pekan terakhir boleh dibilang belum berbuah manis. Alih-alih berhasil menurunkan harga minyak goreng, larangan ekspor CPO malah membuat pengusaha kelapa sawit menjerit. Bagaimana tidak? Larangan ini mengancam tandan buah segar (TBS) kelapa sawit rusak.  Belum lagi efek domino yang ditimbulkan akibat kebijakan Pemerintahan Presiden Jokowi itu mulai dari pengolahan minyak sawit yang terhenti, petani yang menunda panen kelapa sawit, hingga pohon sawit yang rusak akibat TBS yang tidak dipanen. Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Mukti Sardjono menyebut pengolahan minyak sawit akan berhenti sementara kalau pasokan CPO sudah melampaui kecukupan di dalam negeri.  Akhirnya, ia menyebut pengolahan TBS kelapa sawit akan berhenti karena stok CPO dalam negeri sudah penuh. Ini akan membuat TBS yang belum diolah rusak dalam kurun waktu 24 jam. Laporan Gapki menyebutkan ...

Bank Dunia Pangkas Pertumbuhan Global Jadi 3,2%

Imbas dari serangan Rusia ke Ukraina memberikan tekanan ke ekonomi global. Ditambah inflasi dan efek pandemi Covid-19 yang berkepanjangan. Presiden Bank Dunia David Malpass memperkirakan ekonomi global akan tumbuh 3,2% pada tahun 2022, yang sebelumnya diperkirakan sebesar 4,1%. Dikatakan saat konfrensi pers Spring Meeting dengan IMF, membahas tentang krisis yang tumpang tindih mengenai Covid, inflasi, dan serangan Rusia ke Ukraina. Tingkat kemiskinan global juga berkemungkinan akan naik. Sebagai respon dunia yang mengalami kenaikan mendadak harga energi, pupuk, dan makanan. Diperkirakan juga bahwa kenaikan suku bunga akan memperlambat pertumbuhan dan memperburuk ketidaksetaraan. Mayoritas dari ke seluruhan negara Eropa dan Asia Tengah yang akan merasakan dampaknya. Konsumen di negara maju diperkirakan akan mengurangi pengeluaran mereka tahun ini karena harga bahan bakar yang naik. Di sisi lain untuk membantu m engurangi krisis, Malpass mengatakan Bank dunia menetapkan target pembiayaan...